Cara Menidurkan Anak Bayi yang Susah Tidur

blogger templates
Cara Menidurkan Anak Bayi yang Susah Tidur - Pada dasarnya, aktifitas tidur sangatlah penting. Sederhananya, ibarat sebuah handphone, sumber tenaga perlu di-charge kembali. Dengan adanya aktifitas beristirahat pada tubuh, selain sebagai bagian aktifitas alami pemulihan stamina, tidur juga membawa pengaruh pada perkembangan kesehatan jiwa. Terutama pada bayi, kualitas tidur si kecil mengambil peran krusiil pada  kondisi perkembangan kesehatan jiwanya juga. Disamping itu, beberapa ilmuwan meyakini bahwa tidur dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia.
Penelitian juga telah menunjukan bahwa anak-anak banyak mengalami pertumbuhan saat tidur. Hal ini lah yang menjadikan sesuatu yang mendasari betapa pentingnya kualitas tidur pada bayi. Adalah sebuah anugerah bagi orangtua yang tidak memiliki kesulitan dalam menyesuaikan jam tidur si kecil. Karena tidak sedikit orangtua yang mengalami penurunan kualitas tidurnya ketika berusaha meprioritaskan kualitas tidur terbaik sang bayi.

Bagi orangtua yang mengalami kesulitan menyesuaikan jam tidur si kecil, beberapa pilihan metode dibawah ini mungkin dapat membantu:
  1. Ferberizing
Istilah ferberizing acapkali digunakan pada metode yang membiarkan bayi menangis sebelum tidur. Banyak yang berpendapat metode ini merupakan metode yang ‘paling kejam’. Dengan melakukan metode ini selama 3 hari, orangtua akan merasakan efeknya.
Pelaksanaan metode ini sangat mudah, caranya : cukup dengan meletakkan bayi di tempat tidur. Setelah mengucapkan selamat tidur padanya, tinggal saja sampai ia tertidur dengan sendirinya.
Kebanyakan bayi akan menangis begitu orangtua menghilang dari pandangannya. Tapi lama kelamaan karena tidak mendapat tanggapan, bayi akan menyerah dan akhirnya tertidur.

Jelas ada kemungkinan bayi akan menangis lama. Perlu kegigihan dan kesabaran dari orangtua untuk melaksanakan metode ini.


Sebagian pakar berpendapat metode ini memiliki risiko yang cukup besar. Masalahnya penafsiran arti tangis bayi masih sangat ambigu dan jamak. Bisa saja bayi menangis karena adanya gangguan, seperti gumoh, muntah, kolik, dan tersedak bisa membuatnya semakin tak nyaman atau bahkan menyakitkan. Selain itu, pada bayi-bayi tertentu, tindakan ini dirasakan sebagai pengabaian dan ia sulit mendapatkan rasa aman. Sangat mungkin anak kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang “tegaan”, selain membuatnya menjadi sosok penakut. Metode ini juga mengharuskan bayi memiliki kamar sendiri.
  1. Kendalikan Tangisan
Prinsipnya hampir sama dengan metode feberizing, yaitu membiarkan bayi menangis. Yang membedakan, metode ini memberikan waktu jeda yang diperpanjang secara berangsur-angsur. Sebelum memulainya, orangtua bisa memutuskan berapa lama anak akan dibiarkan menangis, minimal satu menit. Setelah meletakkannya di tempat tidur, ucapkan selamat malam dan tinggalkan si kecil. Jika bayi tetap terjaga, kembalilah dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, misalnya 5 menit. Setelah bayi ditenangkan, tinggalkan lagi dan kembali dalam waktu yang lebih lama, begitu seterusnya hingga orangtua bisa meninggalkan bayi paling lama 20 menit.

Lakukan hal itu pada malam berikutnya. Secara perlahan tingkatkan jeda waktu sebelum memeriksa keadaan bayi. Misalnya, jangan kembali menengok si kecil sebelum 10 menit berakhir, lalu perpanjang waktunya hingga maksimal 25 menit. Pada malam ketiga, setelah 15 menit ibu baru bisa menengok bayi di boksnya, kemudian jeda diperpanjang menjadi 30 menit, dan seterusnya.

Meski lebih lembut dari metode pertama, cara ini mungkin tidak efektif, terutama bagi bayi-bayi berkarakter keras. Bayi juga bisa merasa dipermainkan perasaannya. Untuk si kecil dengan karakter yang lebih kooperatif, cara ini bisa dicoba. Kelebihannya, anak bisa belajar berpisah dari orangtua terutama ibunya tanpa kehilangan kedekatan emosi.
  1. Membujuk Berulang
Bagi orangtua yang tidak tega untuk melaksanakan 2 metode sebelumnya, mungkin metode ini dapat dijadikan alternatif. Berlawanan dengan 2 metode sebelumnya, metode ini banyak menekankan pada curahan kasih sayang ketimbang sikap ‘dingin’ orangtua. Pembelajaran moral pada metode ini adalah untuk meyakinkan si kecil, bahwa anda selalu berada di dekatnya dan -pada kasus ini- mintalah dia untuk tidur.

Penerapannya sebagai berikut: ucapkan kata-kata khusus pengantar tidur, lalu berjalanlah menjauh (bisa ke luar kamar). Bayi mungkin akan menangis. Jika itu terjadi kembalilah dan ucapkan kata pengantar tidur, lalu tinggalkan. Ulangi langkah-langkah itu sampai bayi tertidur.
Ibu dapat mengontrol bayinya dengan lebih mudah. Rasa aman bayi juga terjaga karena masih bisa melihat ibu, meski agak berjauhan. Tempat tidur orangtua dan boks bayi bisa berada di dalam satu kamar.
  1. Beri Ciuman
Setelah meletakkan bayi di tempat tidur, ucapkan kata pengantar tidur dan berikanlah ciuman. Berjanjilah untuk kembali lagi dan memberinya ciuman. Mundurlah beberapa langkah sebelum memberikan ciuman kedua. Jika bayi memberikan respon indikasi minta digendong atau menangis, jangan menegurnya, tetapi baringkan kembali dan berikan ciuman perpisahan. Setelah beberapa hari, kita akan tahu jumlah ciuman dan waktu yang dibutuhkan.
Anak merasa diperhatikan dan dicintai. Ketika rasa amannya sudah tumbuh, kebutuhan diciumi supaya bisa tidur akan berkurang. Ia bisa menenangkan diri sendiri jika terbangun.
  1. Mundur Perlahan
Baringkan si kecil, kemudian duduklah di sampingnya sampai ia tertidur. Di minggu-minggu berikut, perlahan-lahan berpindahlah sedikit lebih jauh dari tempat tidurnya, sampai akhirnya Anda tidak mesti berada di dalam kamar saat bayi tertidur. Ia mungkin akan menolak setiap kali orangtua bergeser dari sisi tempat tidur. Jika ibu tetap tenang dan tegas, penolakan tersebut akan berakhir hanya dalam waktu satu atau dua malam.

Walau metode ini memakan waktu yang lebih lama dan menguras stamina, namun sangat cocok bagi ibu yang ingin menanamkan kedekatan emosi, rasa aman, dan perasaan dicintai pada bayi.

Lima metode di atas bisa diterapkan sedini mungkin, meski ada orangtua yang baru menerapkannya setelah bayi berumur 3 bulan ke atas. Jadi, orangtualah yang paling tahu kapan harus memulainya. Satu hal yang pasti, apa pun metode yang diterapkan jangan pernah menyerah. Selamat mencoba!













.